Pencitraan Kaum Perempuan Melalui Program TV Dokumenter “Harta, Tahta, dan Wanita”

Isu keseteraan gender masih menjadi sebuah isu yang sering diperdebatkan di Indonesia. Banyak hal dan faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang mengenai kesetaraan gender. Salah satu hal yang menjadi salah satu faktor seseorang memahami kesetaraan gender adalah melalui media elektronik, khususnya televisi.

            Salah satu acara yang dapat menyinggung isu gender adalah sebuah program televisi dokumenter yang berjudul “Harta, Tahta, dan Wanita” yang ditayangkan pada tengah malam di salah satu televisi swasta terbesar di Indonesia. Acara ini merupakan sebuah acara dokumenter yang mereka ulang kejadian tindak kriminal atau kejahatan yang mayoritas korbannya adalah wanita. Dari judul program televisi tersebut, seolah-olah kita menangkap kesan bahwa kaum wanita hanya dijadikan sebagai sebuah tolak ukur atau trofi kesuksesan kaum laki-laki. Sudah terlihat jelas bahwa kaum perempuan disejajarkan dengan posisi harta dan tahta. Dari sini kita bisa melihat bagaimana pencitraan kaum perempuan di beragam program televisi bisa menimbulkan bias pemahaman mengenai kesetaraan gender.

Image

Kesetaraan Gender dan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan

            Masih kurangnya pemahaman terhadap isu kesetaraan gender menjadi salah satu faktor penyebab masih tingginya kasus kekerasan yang dialami oleh kaum perempuan. Di tahun 2013, kejahatan seksual pada anak khususnya anak perempuan masih tergolong sangat tinggi.  Pada semester pertama 2013, sudah tercatat 1.824 kasus kekerasan terhadap anak, dengan 724 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual. Dengan kata lain, kita bisa simpulkan bahwa kasus kejahatan seksual meningkat secaras signifikan dari tahun 2012 (62 persen dari jumlah kasus kekerasan pada anak yaitu 2.637 di tahun 2012 merupakan kejahatan seksual). Sebagian besar kasus tersebut terjadi di dalam rumah dengan orang-orang terdekat sebagai pelakunya. Kasus kekerasan yang terjadi pada anak, 82 persen diantaranya dialami oleh anak perempuan. Pelaku kejahatan ini pastilah belum memahami adanya kesetaraan gender karena yang mereka lihat dari sosok seorang perempuan adalah sebagai pemuas nafsu dan boneka yang bisa mereka mainkan seenaknya.

Tayangan Program TV Rentan Adegan Kekerasan

            Tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik dan masih mengandung konten bias gender bisa merusak pola pikir masyarakat. Program televisi seperti “Harta, Tahta, dan Wanita” seharusnya dibuat dengan jauh lebih mendidik dengan memberikan pemahaman yang benar dan tepat tentang bagaimana cara memperlakukan perempuan yang baik. Orang-orang yang belum memiliki pola pemahaman yang tepat tentang kesetaraan gender bisa saja dengan mudah meniru tayangan atau adegan yang ada di televisi. Yang paling parah adalah meniru tindakan si pelaku tindak kriminal yang ditampilkan di program televisi dokumenter tersebut. Perempuan masih sering menjadi korban kekerasan seksual karena masih adanya anggapan bahwa perempuan adalah kaum subordinat yang bisa dimainkan seenaknya saja. Tahun 2013 yang dinyatakan sebagai tahun siaga kejahatan seksual yang dikemukakan oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, seharusnya kita dukung bersama-sama.

Peran Lembaga dan Masyarakat

Komnas Perempuan sendiri sudah mendorong KPI untuk lebih memperhatikan tayangan yang ada di televisi. Dengan semangat untuk menghapus segala tindak kekerasan pada perempuan, Komnas Perempuan menyarankan KPI untuk menindak tegas program televisi yang secara jelas menyampaikan persepsi yang salah terhadap kedudukan perempuan. Seperti pada tayangan “Harta, Tahta, dan Wanita”, reka ulang kejadian tindak kriminal dengan perempuan sebagai korbannya tidak patut didramatisasi. Tindak kasus kekerasan pada perempuan adalah salah satu tindak pelanggaran hak asasi manusia. Dengan angka jumlah kasus kekerasan yang semakin meningkat tiap tahunnya (tahun 2010 ada 15.648 kasus, tahun 2011 ada 11.861 kasus, tahun 2012 ada 18.718 kasus), kita harus lebih kritis lagi dalam memilih tayangan atau program televisi. Bagi perempuan yang masih awam dengan isu kesetaraan gender, tayangan “Harta, Tahta, dan Wanita” malah bisa membuat mereka merasa takut

KPI Pusat telah mencatat adanya 286 sisi pelanggaran tayangan di pertengahan tahun 2013. Angka ini kemungkinan masih akan bertambah hingga akhir tahun 2013. Di tahun 2012 saja, angka pelanggaran tayangan melonjak sangat dramatis dari hanya 3.856 laporan di tahun 2011 menjadi 43.470. Sebagai masyarakat, kita juga memiliki hak untuk memberikan laporan atau pengaduan terhadap konten tayangan program televisi yang penuh dengan tindak diskriminatif terhadap perempuan.

 

Sumber:

http://indonesia.ucanews.com/2013/09/05/1-032-kasus-kekerasan-anak-terjadi-di-semester-i-tahun-2013/ (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/18/3/169347/Kejahatan-Seksual-terhadap-Anak-Marak-di-Tahun-2013 (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.komnasperempuan.or.id/2012/04/siaran-pers-%E2%80%9Cbukan-sekedar-ganti-jam-tayang-mengawal-program-penyiaran-untuk-menghapus-kekerasan-terhadap-perempuan%E2%80%9D/ (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.jogjatv.tv/berita/15/07/2013/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-masih-tinggi (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2013/06/30/sanksi-kpi-belum-menimbulkan-efek-jera-573272.html (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://asmasandi.wordpress.com/2013/03/21/emansipasi-dan-relasi/   (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

 


Budaya Patriarki di Indonesia dan Kontribusinya pada Bias Gender

Di Indonesia, kita sering mendengar tentang budaya patriarki. Apa sesungguhnya budaya patriarki itu? Dan bagaimana sejarah budaya patriarki yang ada di Indonesia? Jika kita menilik pada istilah patriarki, kita akan tahu bahwa patriarki pada dasarnya merupakan sebuah sistem sosial yang menempatkan kaum laki-laki sebagai sosok otoritas utama serta sering ditempatkan sebagai pemilik sentral organisasi sosial. Salah satu contohnya adalah posisi ayah dalam keluarga. Di dalam keluarga, khususnya di Indonesia, ayah masih sering dianggap sebagai satu-satunya pemilik otoritas terhadap anak-anak, harta benda, dan keluarganya. Secara tersirat, kita melihat bahwa sistem yang ada di dalam budaya patriarki ini memposisikan kaum perempuan sebagai subordinasi sedangkan laki-laki memiliki hak yang lebih istimewa. Mari kita bahas lebih jauh tentang sejarah budaya patriarki yang ada di Indonesia.
Budaya patriarki yang ada di Indonesia juga dipengaruhi dengan adanya sistem patrilineal. Patrilineal merupakan adat masyarakat yang mengatur alur atau garis keturunan dari pihak laki-laki atau ayah. Ada kemiripan istilah antara patriarki dan patrilineal. Kedua kata tersebut sama-sama mengandung satu kata yang sama, yaitu “pater” yang berarti ayah. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas banyak suku dan budaya. Selain budaya patrilineal, juga ada budaya matrilineal. Kebalikan dari patrilineal, matrilineal ini merupakan adat masyarakat yang menyatakan garis atau alur keturunan berasal dari pihak perempuan atau ibu. Budaya matrilineal ini tergolong jarang digunakan terutama di Indonesia.
Disadari atau tidak, saat ini kita masih merasakan adanya bias gender. Salah satu penyebab utama terjadinya bias gender ini adalah karena masih kentalnya budaya patriarki yang ada di Indonesia. Kesempatan perempuan untuk bisa berkiprah dan berperan aktif di segala bidang masih sering dibatasi. Bahkan ada peraturan dan hukum yang disinyalir bias gender karena masih ada unsur diskriminasi pada kaum perempuan. Skala upah untuk perempuan kadang-kadang masih berada di bawah skala upah laki-laki.
Kentalnya pola patriarki di Indonesia menyebabkan sulitnya meningkatkan keseteraan gender terhadap perempuan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa seorang perempuan pada akhirnya hanya bisa menjadi perempouan rumahan saja. Sehingga, masih banyak keluarga yang tak mengijinkan anak perempuannya untuk mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika kaum perempuan tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak, maka kaum perempuan akan terus didiskriminasi. Diskriminasi seperti ini pada akhirnya menciptakan ketimpangan sosial dan keadilan antara perempuan dan laki-laki. Salah satu penyebab awal terbentuknya budaya patriarki adalah adanya perbedan biologis antara laki-laki dan perempuan. Sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki pola pikir bahwa kaum perempuan tidak memiliki otot sekuat kaum laki-laki. Padahal, yang harus kita pahami lebih dalam adalah bahwa kekuatan fisik tidak bisa dijadikan alasan masyarakat untuk memperlakukan kaum perempuan lebih rendah dari kaum laki-laki.
Masih banyaknya penduduk atau masyarakat Indonesia yang menganut “kepercayaan” bahwa kaum perempuan itu lebih lemah dari kaum laki-laki menjadi penyebab ideologi patriarki yang masih melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Jika perempuan ingin bekerja, maka ruang yang disediakan lebih banyak ke ranah domestik. Selain itu, di Indonesia sendiri masih ada anggapan bahwa secara ekonomi kaum perempuan masih tergantung pada kaum laki-laki. Dengan kata lain, perempuan tidak perlu mengembangkan karir atau pekerjaannya karena nantinya sang suami juga lah yang akan menghidupinya. Akibatnya, kaum perempuan “dipaksa” untuk menggantungkan seluruh hidupnya pada kaum laki-laki atau sang suami.
Di Indonesia, sistem perjodohan masih berlaku di beberapa daerah. Sang perempuan pasrah menerima sebuah perjodohan sedangkan laki-laki bisa bebas menentukan calon istrinya. Masih banyaknya keluarga yang menganut sistem patriarki membuat tidak semua anak perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Jika di dalam keluarga saja, perempuan tak bisa mendapatkan haknya untuk memperolah pendidikan yang layak, maka sistem patriarki masih akan terus melekat kuat di masyarakat Indonesia. Ada satu hal lagi yang menyebabkan budaya patriarki masih berakar kuat di Indonesia, yaitu kaum perempuan masih sering ditempatkan pada posisi marginal. Ada sebuah kewajiban atau keharusan tak tertulis yang menyatakan bahwa perempuan hanya boleh tinggal di rumah dan melakukan semua pekerjaan rumah.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://rosenmanmanihuruk.blogspot.com/2008/06/budaya-patriarki-di-indonesia-membuat.html (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Patrilineal (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://mimbarhukum.blogspot.com/2013/02/budaya-patriarki-dalam-kesetaraan-gender.html (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://eprints.undip.ac.id/…/BELENGGU_BELENGGU_PATRIARKI_SEB (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)