Pencitraan Kaum Perempuan Melalui Program TV Dokumenter “Harta, Tahta, dan Wanita”

Isu keseteraan gender masih menjadi sebuah isu yang sering diperdebatkan di Indonesia. Banyak hal dan faktor yang mempengaruhi pemahaman seseorang mengenai kesetaraan gender. Salah satu hal yang menjadi salah satu faktor seseorang memahami kesetaraan gender adalah melalui media elektronik, khususnya televisi.

            Salah satu acara yang dapat menyinggung isu gender adalah sebuah program televisi dokumenter yang berjudul “Harta, Tahta, dan Wanita” yang ditayangkan pada tengah malam di salah satu televisi swasta terbesar di Indonesia. Acara ini merupakan sebuah acara dokumenter yang mereka ulang kejadian tindak kriminal atau kejahatan yang mayoritas korbannya adalah wanita. Dari judul program televisi tersebut, seolah-olah kita menangkap kesan bahwa kaum wanita hanya dijadikan sebagai sebuah tolak ukur atau trofi kesuksesan kaum laki-laki. Sudah terlihat jelas bahwa kaum perempuan disejajarkan dengan posisi harta dan tahta. Dari sini kita bisa melihat bagaimana pencitraan kaum perempuan di beragam program televisi bisa menimbulkan bias pemahaman mengenai kesetaraan gender.

Image

Kesetaraan Gender dan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan

            Masih kurangnya pemahaman terhadap isu kesetaraan gender menjadi salah satu faktor penyebab masih tingginya kasus kekerasan yang dialami oleh kaum perempuan. Di tahun 2013, kejahatan seksual pada anak khususnya anak perempuan masih tergolong sangat tinggi.  Pada semester pertama 2013, sudah tercatat 1.824 kasus kekerasan terhadap anak, dengan 724 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual. Dengan kata lain, kita bisa simpulkan bahwa kasus kejahatan seksual meningkat secaras signifikan dari tahun 2012 (62 persen dari jumlah kasus kekerasan pada anak yaitu 2.637 di tahun 2012 merupakan kejahatan seksual). Sebagian besar kasus tersebut terjadi di dalam rumah dengan orang-orang terdekat sebagai pelakunya. Kasus kekerasan yang terjadi pada anak, 82 persen diantaranya dialami oleh anak perempuan. Pelaku kejahatan ini pastilah belum memahami adanya kesetaraan gender karena yang mereka lihat dari sosok seorang perempuan adalah sebagai pemuas nafsu dan boneka yang bisa mereka mainkan seenaknya.

Tayangan Program TV Rentan Adegan Kekerasan

            Tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik dan masih mengandung konten bias gender bisa merusak pola pikir masyarakat. Program televisi seperti “Harta, Tahta, dan Wanita” seharusnya dibuat dengan jauh lebih mendidik dengan memberikan pemahaman yang benar dan tepat tentang bagaimana cara memperlakukan perempuan yang baik. Orang-orang yang belum memiliki pola pemahaman yang tepat tentang kesetaraan gender bisa saja dengan mudah meniru tayangan atau adegan yang ada di televisi. Yang paling parah adalah meniru tindakan si pelaku tindak kriminal yang ditampilkan di program televisi dokumenter tersebut. Perempuan masih sering menjadi korban kekerasan seksual karena masih adanya anggapan bahwa perempuan adalah kaum subordinat yang bisa dimainkan seenaknya saja. Tahun 2013 yang dinyatakan sebagai tahun siaga kejahatan seksual yang dikemukakan oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, seharusnya kita dukung bersama-sama.

Peran Lembaga dan Masyarakat

Komnas Perempuan sendiri sudah mendorong KPI untuk lebih memperhatikan tayangan yang ada di televisi. Dengan semangat untuk menghapus segala tindak kekerasan pada perempuan, Komnas Perempuan menyarankan KPI untuk menindak tegas program televisi yang secara jelas menyampaikan persepsi yang salah terhadap kedudukan perempuan. Seperti pada tayangan “Harta, Tahta, dan Wanita”, reka ulang kejadian tindak kriminal dengan perempuan sebagai korbannya tidak patut didramatisasi. Tindak kasus kekerasan pada perempuan adalah salah satu tindak pelanggaran hak asasi manusia. Dengan angka jumlah kasus kekerasan yang semakin meningkat tiap tahunnya (tahun 2010 ada 15.648 kasus, tahun 2011 ada 11.861 kasus, tahun 2012 ada 18.718 kasus), kita harus lebih kritis lagi dalam memilih tayangan atau program televisi. Bagi perempuan yang masih awam dengan isu kesetaraan gender, tayangan “Harta, Tahta, dan Wanita” malah bisa membuat mereka merasa takut

KPI Pusat telah mencatat adanya 286 sisi pelanggaran tayangan di pertengahan tahun 2013. Angka ini kemungkinan masih akan bertambah hingga akhir tahun 2013. Di tahun 2012 saja, angka pelanggaran tayangan melonjak sangat dramatis dari hanya 3.856 laporan di tahun 2011 menjadi 43.470. Sebagai masyarakat, kita juga memiliki hak untuk memberikan laporan atau pengaduan terhadap konten tayangan program televisi yang penuh dengan tindak diskriminatif terhadap perempuan.

 

Sumber:

http://indonesia.ucanews.com/2013/09/05/1-032-kasus-kekerasan-anak-terjadi-di-semester-i-tahun-2013/ (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/18/3/169347/Kejahatan-Seksual-terhadap-Anak-Marak-di-Tahun-2013 (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.komnasperempuan.or.id/2012/04/siaran-pers-%E2%80%9Cbukan-sekedar-ganti-jam-tayang-mengawal-program-penyiaran-untuk-menghapus-kekerasan-terhadap-perempuan%E2%80%9D/ (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://www.jogjatv.tv/berita/15/07/2013/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-masih-tinggi (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2013/06/30/sanksi-kpi-belum-menimbulkan-efek-jera-573272.html (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

http://asmasandi.wordpress.com/2013/03/21/emansipasi-dan-relasi/   (diakses tanggal 8 Oktober 2013)

 


Film Televisi (FTV) Indonesia dan Tayangan Kekerasan terhadap Perempuan

Ditandatanganinya nota kesepahaman antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mengenai pengawasan penyiaran untuk melindungi anak-anak dari tayangan kurang mendidik seharusnya menjadi titik cerah agar tayangan televisi di Indonesia bisa lebih baik lagi. Sangat disayangkan ketika mengetahui bahwa tayangan televisi atau sinetron di Indonesia masih sering menampilkan anak atau remaja yang dijadikan objek kriminal, objek lawakan, bahkan pelecehan seksual. Pada tahun 2011, tercatat ada 118.207 kasus kekerasan yang menimpa perempuan (berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan). Saat ini, masih banyak Film Televisi (FTV) yang menampilkan kekerasan secara sosial, verbal, hingga kekerasan secara fisik. Tayangan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya dalam bentuk adegan kekerasan fisik saja.

ftv sctv 2011

FTV Sebagai Program Favorit Pemirsa Indonesia
FTV merupakan salah satu program TV yang sangat diminati oleh permisa di Indonesia. Terlihat dari jadwal tayang yang cukup padat. Sebagai contoh, salah satu stasiun TV yang menayangkan program FTV mempunyai jadwal tayang seperti dibawah ini (http://www.sctv.co.id/sctv-ftv/ftv_24676.html):
Kategori FTV yang ditayangkan SCTV antara lain:
1. FTV Pagi: Disiarkan setiap hari, pukul 10.00 WIB, dengan durasi dua jam.
2. FTV Siang: Disiarkan setiap hari kecuali Minggu, pukul 12.30 WIB, dengan durasi dua jam.
3. FTV Utama: Disiarkan setiap hari kecuali Sabtu, pukul 22.30 WIB, dengan durasi dua jam.

watching-tv

Untuk audience share atau share of the audience program TV ini dimana persentase setiap rumah tangga yang mempunyai televisi set menonton stasiun TV tertentu selama periode tertentu, dapat disimak pernyataan berikut ini (http://filmindonesia.or.id/article/ffi-2011-kuantitas-ftv-belum-seiring-kualitas#.Um9JSHCPjTo):
“Dari audience share, FTV pagi bisa mencapai 25-29 persen. Artinya, dari jumlah penonton TV pada saat itu, 25-29 persen menonton FTV kami. Lalu, siang hari mencapai 21-24 persen. Sore hanya 14-15 persen, karena persaingan lebih ketat. Malam juga sekitar 15 persen,” ujar Banardi Rachmad, Kepala Divisi Akuisisi SCTV”
Dari tingkat presentase diatas terlihat cukup signifikan, bukan? Nah, bagaimana dengan isi (content) tayangan yang seringkali terdapat di program TV kita? Mari kita simak ulasan berikut.

Tayangan Kekerasan Terhadap Perempuan
Beberapa tayangan televisi masih sering tidak mengindahkan hak perempuan untuk dilihat secara utuh, hingga akhirnya tereduksi menjadi objek seksual semata. Bagi anak-anak dan remaja, tayangan ini sangatlah berbahaya bagi perkembangannya. Jika secara sosiologis kekerasan terhadap perempuan yang ditayangkan di televisi dianggap sudah wajar, maka akhirnya akan ada bentuk kekerasan baru seperti kekerasan verbal. Salah satu contoh kekerasan verbal adalah rayuan berasosiatif seksual. Ketika kekerasan seperti sudah dimaklumi, maka kekerasan tersebut terlegimitasi menjadi bentuk kekerasan fisik mulai dari mencolek hingga bahkan memperkosa. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, jumlah kasus mencapai 10.000 kasus. Di tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2011, jumlah kasus meningkat hingga menjai 11.000 kasus. Yang lebih mengejutkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan semakin melonjak hingga mencapai 18.067 kasus pada tahun 2012.
Mengontrol tayangan-tayangan televisi di Indonesia haruslah menjadi tanggung jawab semua orang. Kita tidak bisa hanya menyerahkan semuanya pada pemerintah atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) saja. Kita bahkan memiliki hak untuk memberikan masukan, kritik, dan saran tentang materi penyiaran di televisi yang bertentangan dengan HAM, sensitif gender, dan hak-hak perempuan kepada Komisi Hak Asasi Manusia dan Komisi Nasional Antik Kekerasan Terhadap Perempuan. Tipologi perempuan dalam tayangan televisi di Indonesia, menurut seorang pengamat televis dan media bernama Veven Sp. Wardhana, dibagi menjadi tiga. Pertama, perempuan pembawa petaka. Kita bisa lihat di film televisi yang biasanya menampilkan seorang perempuan yang “kerjaannya” hanya menyakiti orang lain. Kedua, perempuan menderita dan lemah karena tidak memilik daya untuk menghadapi apalagi melewan penyebab duka deritanya. Di sebuah film televisi, kita biasanya menemukan seorang perempuan yang hidupnya selalu disiksa bahkan oleh keluarganya sendiri dan ia tak sedikit pun memiliki upaya untuk lepas dari penderitaannya. Ketiga, perempuan sakti. Banyak sekali tokoh hantu aneh yang diperankan oleh perempuan.

Pemirsa Indonesia Harus Aktif
Kita memiliki hak untuk memprotes penyimpangan tayangan yang ada di televisi. Pada tahun 2005 saja, sudah ada 250 kasus pelanggaran yang berkaitan dengan pornografi, horor, seksual, mistk, dan kekerasan. Banyak tayangan televisi yang menampilkan sosok perempuan penarik perhatian dengan memakai baju yang terlampau seksi di ruang publik. Jika sajian tayangan televisi sudah seperti itu, masyarakat akan menciptakan sebuah pemahaman baru tentang perempuan. Sebuah citra perempuan yang ditampilkan di televisi akan sangat berpengaruh besar terhadap bagaimana masyarakat bertindak atau berperilaku. Sangat memprihatinkan ketika atribut kekuatan seks menempel sangat lekat pada perempuan. Tayangan film televisi yang sering menampilkan perempuan-perempuan seksi atau perempuan penggoda bisa membentuk cara pandang yang menyatakan bahwa perempuan sudah lumrah dijadikan objek eksploitasi.
Kita tidak boleh lengah dalam menyikapi tayangan-tayangan yang ada di televisi. Program televisi bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita bisa mendapatkan informasi berita terkini, ilmu pengetahuan, dan kabar terbaru dari seluruh dunia melalui televisi. Di sisi lain, televisi juga mengandung tayangan-tayangan yang kuran mendidik dan berpengaruh negatif. Seperti dalam film televisi yang masih sering mengumbar tindak kekerasan, kriminalitas, bahkan budaya hedonisme. Jika kita merasa sudah tidak lagi bisa mengandalkan pemerintah, kita sebaiknya membangun masyarakat yang sadar dan mengerti media televisi. Memang perlu kedewasaan pemirsa televisi untuk bisa memilih tayangan televisi yang berkulitas dan layak ditonton.

Sumber:
1. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/30/mm1zge-tayangan-kekerasan-pengaruhi-karakter-anak (diakses tanggal 15 Juli 2013)
2. http://remotivi.or.id/kabar-tv/usir-tayangan-tv-yang-melecehkan-perempuan (diakses tanggal 15 Juli 2013)
3. http://www.pikiran-rakyat.com/node/236888 (diakses tanggal 15 Juli 2013)
4. http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3:perempuan-dalam-tayangan-televisi&catid=2:sorotan&Itemid=3 (diakses tanggal 15 Juli 2013)
5. http://rifkaanisa.blogdetik.com/2012/10/19/tayangan-seksi-dalam-televisi/ (diakses tanggal 15 Juli 2013)
6. http://www.antaranews.com/print/27637/masyarakat-harus-berani-protes-penyimpangan-tayangan-televisi (diakses tanggal 15 Juli 2013)
7. http://pidatosip.blogspot.com/2011/05/jangan-lengah-menyikapi-pengaruh.html (diakses tanggal 15 Juli 2013)
8. http://redysoncandrajaya.wordpress.com/tag/menyikapi-tayangan-televisi/ (diakses tanggal 15 Juli 2013)
9. http://www.sctv.co.id/sctv-ftv/ftv_24676.html (diakses tanggal 29 Oktober 2013)
10. http://dictionary.reference.com/browse/audience+share (diakses tanggal 29 Oktober 2013)

Menjual Budaya Materialistik Kepada Remaja Perempuan Indonesia Melalui Sinetron Putih Abu Abu

Sinetron adalah tayangan televisi yang disukai banyak penonton Indonesia, khususnya remaja perempuan. Salah satunya adalah sinetron Putih Abu-Abu. Sinetron ini ditayangkan di sebuah televisi nasional Indonesia. Pemeran dalam sinetron ini adalah artis-artis muda yang sudah cukup dikenal di dunia hiburan Indonesia, sebut saya Derby Romero, Febby Rastanti, Hikmal Abrar, dan Blink. Secara garis besar sinetron ini bercerita tentang dunia remaja beserta konflik dan romansanya. Bagi para penggemar sinetron, tayangan ini cukup seru karena percikan-percikan konflik yang diusung dalam alur ceritanya. Ada beragam tayangan adegan dan tayangan yang sangat digemari oleh para penonton. Bahkan, para penggemar berat sinetron ini membuat julukan-julukan khusus pada karakter sinetron. Beberapa diantaranya adalah Beruang Chubby, Melon, Vingel, Kutu, Juleha, Miss Je, Queen Tam-tam, Trio Blink, Frenzon, dan Kamseupay. Di  balik alur cerita sinetron ini, ada satu hal yang patut kita waspadai. Yaitu, adanya budaya materialisme yang secara tidak langsung ditularkan melalui tayangan-tayangannya.

            Apakah materialisme itu? Secara umum, definisi kata materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar atas segala sesuatu dengan menjadikan materi sebagai satu-satunya substansi. Orang-orang yang hidupnya berorientasi pada materi disebut sebagai materialis. Selain itu, orang-orang materialis memiliki kecenderungan untuk mementingkan kebendaan semata, seperti uang, harta, tren baju, dan sebagainya. Tayangan sinetron sangat mempengaruhi perkembangan remaja putri di Indonesia. Kehidupan remaja juga dipengaruhi oleh adanya transisi kognitif. Jadi, remaja tidak hanya mengorganisasikan pengamatan serta pengalaman mereka, tetapi juga menyesuaikan cara berpikir mereka. Informasi yang mereka dapat akan membuat pemahaman mereka lebih mendalam lagi. Selain itu, remaja akan lebih idealis dalam berpikir. Mereka memiliki kecenderungan untuk memikirkan karakteristick ideal dari diri sendiri, orang lain, dan dunia luar. Tayangan sinetron yang digandrungi pun akan mempengaruhi perkembangan kognitif remaja.Image

            Remaja pada generasi sekarang lebih materialistis dibandingkan dnegan remaja pada generasi sebelumnya. Berdasarkan survei GK NOP yang melibatkan 1.255 responden orang dewasa di Inggris, hasil poling menunjukkan bahwa mereka sepakat bahwa anak-anak jaman sekarang lebih materialistis dibandingkan generasi sebelumnya. Di negara maju seperti Inggris saja, mental anak-anaknya sudah rusak akibat materialisme. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Salah satu penyebab semakin banyak remaja yang menjadi materialis adalah masuknya beragam informasi yang semakin bebas dan mudah diakses oleh mereka. Di Indonesia sendiri, hampir 60 persen responden percaya bahwa mental materialisme pada remaja rusak akibat iklan dan media. Budaya materialisme ini pun bisa memicu tindakan kriminalitas. Pada tahun 2008 saja, kasus pembunuhan di Indonesia mencapai 559 kasus. Jumlah ini meningkat sekitar 50 persen dari kasus yang terjadi pada tahun 2007.

            Seorang remaja akan selalu melewati fase proses pencarian identitas diri. Proses pencarian jati diri ini bisa dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya adalah meniru karakter yang ada di sinetron. Sinetron merupakan salah satu pengaruh luar yang dapat mempengaruhi proses pencarian jati diri remaja putri. Seorang remaja memiliki kecenderungan untuk mencari “role model”, yakni sosok yang ditirunya dan dijadikan panutan. Bisa saja sosok seorang remaja putri yang hidup penuh kemewahan dan mendapatkan semua materi yang ada di tayangan sinetron dijadikan panutan oleh remaja putri. Di tayangan sinetron remaja, kerap kali diumbar budaya materialistik. Di Sinetron Putih Abu-abu, ada karakter bernama Monica dan Tamara yang merupakan kalangan sosialita. Kehidupan yang glamor dengan barang-barang mewah yang mahal bisa membuat seorang remaja putri iri dan akhirnya ia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan materi yang diinginkan.

            Sebesar 85% masyarakat Indonesia mendapatkan informasi dari televisi (berdasarkan survei International Foundation for Election System). Tren yang disuguhkan di sinetron remaja pun bisa diikuti dengan mudah oleh para penggemarnya. Bisa kita lihat di sinetron Putih Abu-Abu dimana anak-anak sekolahnya tidak mengenakan seragam yang seharusnya, belum lagi dengan beragam aksesoris dan gadget mahal yang digunakan oleh para pemerannya. Sangat disayangkan jika tayangan-tayangan sinetron di Indonesia lebih  banyak mengumbar budaya materialisme, bukannya mendidik.

Sumber:

1.      http://id.wikipedia.org/wiki/Putih_Abu-Abu (diakses tanggal 15 Juli 2013)

2.      http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme (diakses tanggal 15 Juli 2013)

3.      http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja/ (diakses tanggal 15 Juli 2013)

4.      http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=6589.0 (diakses tanggal 15 Juli 2013)

5.      http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=32947&obyek_id=4 (diakses tanggal 15 Juli 2013)

6.      http://volunteerlentera.wordpress.com/2012/08/16/efek-negative-sinetron/ (diakses tanggal 15 Juli 2013)

RUU Gratifikasi Seks dan Diskriminasi terhadap Perempuan Dalam Bentuk Human Traffiking

Baru-baru ini marak di beritakan di media masa, baik itu koran, radio, maupun televisi mengenai beberapa anggota DPR yang melakukan hubungan seks dengan para pekerja seks komersial yang kebanyakan dari pekerja seks komersial itu adalah remaja. Cara yang digunakan para anggota dewan itu pun sangat unik dan mungkin bisa digolongkan sebagai cara yang pintar. Bagaimana tidak? Bukannya hanya langsung berhubungan badan saja, namun mereka mencoba mengurangi dosa mereka dengan cara menikahi sang pekerja seks komersial tersebut, bahkan di antara mereka juga sempat mendatangkan modin atau orang yang biasa menikahkan orang. Siapa sangka cara ini bisa dilakukan. Dari beberapa sumber, sudah banyak para anggota dewan yang melakukan ini. Jelas saja, kegiatan semacam ini sangat mencoreng bangsa kita yang sudah banyak terkenal dengan sifat luhurnya. Mengetahui ada kejadian semacam ini, banyak pihak yang kemudian ingin menerapkan sebuah peraturan khusus, salah satunya undang undang yang akan mengatur mengenai gratifikasi seks.
Sebagai mana dilansir oleh salah satu harian besar di Indonesia, Kompas.com, saat ini komisi pemberantasan korupsi (KPK) sedang mempersiapkan susuan rancangan undang-undang untuk mengurus permasalah pemberian gratifikasi dalam bentuk pelayanan seks. Untuk anda yang belum mengetahui benar apa yang dimaksud dengan istilah gratifikasi, gratifikasi menurut Wikipedia Indonesia adalah sebuah pemberian yang berupa apapun. Berarti, dapat disimpulkan bahwa gratifikasi seks merupakan sogokan atau jenis suap yang tidak menggunakan uang, namun menggunakan pelayanan nafsu, atau dalam hal ini seks.
Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa seks adalah salah satu mata uang cukup populer di Indonesia. Bukan hanya anggota DPR saja yang biasanya menerima sogokan seperti ini. Dalam proyek proyek besar, banyak sekali para pebisinis yang memberikan fasilitas seks kepada klien dengan tujuan bahwa mereka akan memenangkan tender yang akan mereka bidik. Dan, harus diakui bahwa cara-cara haram seperti itu sangat bisa membuahkan hasil. Bahkan, menurut Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi atau MK) mengatakan bahwa kekuatan gratifikasi seks justru lebih besar dari pada gratifikasi dalam bentuk uang.
Namun, nampaknya masyarakat hanya berfokus kepada pihak penerima gratfikasi saja. Sudah banyak media yang hanya membahas bagaimana seorang dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang notabenenya adalah seorang lelaki, menerima persembahan seks dari temannya. Namun, sangat jarang terekspos mengenai para perempuan muda yang harus melayani anggota dewan tersebut yang nota benenya jauh lebih tua dari pada mereka. Oleh karena itu, hendaknya masyarakat, selain menyoroti kelakuan menyimpang para anggota rakyat ini, mereka juga harus menenamkan dalam benak mereka bahwa sudah ada banyak perempuan atau gadis-gadis muda yang menjadi korban human trafficking. Mengapa dinamakan human trafficking?
Gratifikasi seks atau yang dilakukan oleh para anggota dewan tersebut dapat digolongkan menjadi human trafficking karena para pelaku gratifikasi seks akan membayarkan sejumlah uang terhadap mucikari yang bertanggung jawab terhadap pekerja seks komersial yang akan dipekerjakan sebagai pemuas nafsu. Nah, di sinilah human trafficking terjadi. Adanya transaksi pembelian manusia. Jika kita lihat secara seksama, perempuan sudah tidak lagi di lihat sebagai seorang manusia lagi lebih kepada objek atau barang yang diperjualbelikan.
Keputusan KPK untuk membentuk sebuah RUU untuk mengatur gratifikasi seks memang merupakan jalan yang benar. Namun, sebaiknya, jika hal ini memang benar terjadi, hendaknya RUU tersebut juga harus memikirkan bagaimana nasip para perempuan yang dijajakan bagaikan sebuah barang dan tidak hanya fokus terhadap pelakunya saja. Pemerintah juga seharusnya berfikir mengenai sebuah cara untuk melindungi para perempuan yang menjadi korban human trafficking tersebut. Semoga saja jika RUU ini benar akan terlaksana, akan tercipta sebuah lingkungan yang bersih dan menghormati perempuan.

Sumber:

http://news.detik.com/read/2013/01/13/134956/2140696/10/ketua-mk-dukung-pembahasan-uu-gratifikasi-seksual

http://id.wikipedia.org/wiki/Gratifikasi

http://nasional.kompas.com/read/2013/01/08/19454367

Pemberdayaan Perempuan Indonesia: Tugas Utama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Menegpp)

Kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia memiliki kedudukan, tugas, dan fungsi khusus. Secara garis besar, kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memiliki tugas untuk menyelenggarakan segal bentuk urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Dengan adanya kementrian ini, diharapkan Presiden bisa lebih baik lagi dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Salah satu fungsi kementrian ini adalah untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Dengan adanya kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, diharapkan para perempuan sudah terpenuhi hak-haknya. Namun, apakah semua hak perempuan sudah dapat dipenuhi dengan baik? Bagaimana dengan angka kekerasan terhadap perempuan?
Di salah satu kota besar di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta, angka kekerasan dalam rumah tangga sebagian besar dialami oleh perempuan. Persentasenya pun sangat mengejutkan, yakni sebesar 87% perempuan yang mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dari tahun 2010 hingga tahun 20122, jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak meningkat dari 1.305 kasus hingga 1.666 kasus. Hal ini membuat tugas Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak semakin berat. Sosialisasi dan pemahaman tentang kasus kekerasan perlu lebih ditekankan lagi. Jika kita melihat data jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di tahun 2012, kita akan lebih tercengang lagi. Di sepanjang tahun 2012 saja, sudah ada 216.156 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan ini masih didominasi dengan kekerasan di ranah personal. Tingginya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan ini mendorong Komnas Perempuan untuk terus melakukan pemantauan.
Program-progam terkait dengan pemberdayaan perempuan harus lebih ditingkatkan lagi. Beberapa program yang bisa dilaksanakan antara lain seminar, pelatihan, dan diskusi rutin. Mengapa program-program tersebut perlu dilaksanakan? Dengan menyelanggarakan acara seminar, diharapkan perempuan Indonesia lebih paham tentang isu-isu terkini serta hak-hak mereka. Beberapa isu yang bisa dijadikan topik seminar, antara lain keadilan bagi perempuan, cara mengatasi dan melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan, serta cara-cara untuk bisa membentuk kemandirian yang lebih matang pada perempuan. Program pelatihan yang bisa diberikan, antara lain pelatihan gender dasar, pelatihan analisa sosial, dan pelatihan kepemimpinan. Perempuan bukan lagi sekadar konco wingking yang posisinya lebih rendah daripada laki-laki. Perempuan yang cerdas, pintar, aktif, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi bisa membuat perubahan yang besar di masyarakat.
Salah satu penyebab adanya bias gender di Indonesia adalah karena belum ada kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tampaknya harus bekerja lebih keras lagi untuk mewujudkan tujuan-tujuannya. Setidaknya ada lima tujuan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pertama, untuk mewujudkan program serta kebijakan pemerintah yang responsif gender. Kedua, untuk memastikan adanya peningkatan serta pemenuhan hak-hak kaum perempuan di Indonesia. Ketiga, untuk memastikan pemenuhan hak-hak anak. Keempat, untuk menjamin terwujudnya kebijakan pada sistem data yang responsif gender. Kelima, untuk mewujudkan manajemen yang akuntabel. Berangkat dari tujuan-tujuan tersebut, sudah saatnya kaum perempuan Indonesia merdeka dan hidup dengan rasa nyaman di Indonesia.
Ada beragam cara yang bisa ditempuh untuk memberdayakan perempuan. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tampaknya sudah cukup baik dalam melaksanakan program-programnya. Berangkat dari pemahaman bahwa kaum perempuan memiliki fungsi dan peran yang sangat strategus, pemberdayaan kaum perempuan sangat lah penting. Sesungguhnya kita memiliki tanggung jawab sosial dalam menyelesaikan masalah ini. Meningkatnya angka pelacuran yang ada di Indonesia sangat lah disayangkan. Pada tahun 2009 saja, jumlah pelacuran anak di Indonesia sudah mencapai 45.000. Dari tahun ke tahun, angka tersebut semakin meningkat. Lebih parahnya di tahun 2013 ini sudah ada situs prostitusi online di mana perempuan “ditawarkan” secara online. Melalui sistem online tersebut, terdapat daftar yang berisi sejumlah perempuan yang bersedia kencan dengan laki-laki yang mampu membayar dengan jumlah tertentu. Tampaknya Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak harus bekerja ekstra keras dalam memberdayakan perempuan agar tidak terjerumus ke dunia prostitusi atau perdagangan perempuan.

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/02/01/mhjsz8-kasus-kekerasan-perempuan-terus-meningkat (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://menegpp.go.id/V2/index.php/tentangkami/tugasdanfungsi (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://www.vhrmedia.com/new/berita_detail.php?id=1948(diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://pemberdayaanperempuan.demokrat.or.id/program-kerja/ (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://www.ppsw.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4&Itemid=57 (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://news.detik.com/bandung/read/2013/02/05/183039/2162010/486/jumlah-member-situs-prostitusi-online-capai-5-ribu-lebih (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Pencitraan Perempuan di Media

Bukan hal yang asing lagi bahwa kaum perempuan sering menjadi objek utama media massa. Jika kita melihat dari sisi filsafat, perempuan adalah makhluk humanis. Namun, hal ini bukan berarti bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Sayangnya, perempuan masih sering menjadi sosok yang termarjinalkan di dalam masyarakat. Di media massa elektronik seperti televisi, sosok perempuan sering dijadikan sebagai alat atau komoditas untuk meningkatkan rating sebuah acara. Hal ini sangat memprihatinkan karena perempuan cenderung dilihat hanya dari sisi keindahan biologisnya saja. Sehingga dapat dipastikan bahwa peran Komisi Penyiaran Indonesia sangat lah penting dalam menjaga pencitraan perempuan di media.
Komisi Penyiaran Indonesi sudah berdiri sejak tahun 2002 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Fungsi komisi ini adalah sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. Kedudukannya pun setingkat dengan lembaga negara yang lain meskipun Komisi Penyiaran Indonesia ini adalah sebuah lembaga independen. Secara garis besar, Kominis Penyiaran Indonesia memiliki tugas untuk mengatur penyiaran yang diselenggarakan oleh tidak hanya Lembaga Penyiaran Publik saja tetapi juga Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Komunitas. Pada tahun 2012 ada 4 kasus penyiaran terbesar. Keempat kasus tersebut terjadi di televisi yang dimiliki oleh tokoh nasional. Karena empat kasus besar tersebut, jumlah pengaduan publik terhadap isi siaran televisi melonjak drastis dari tahun 2011 ke tahun 2012. Pada tahun 2011 hanya ada 2.857 jumlah pengaduan publik sedangkan pada tahun 2012 ada 43.470 jumlah laporan pengaduan publik. Dengan kata lain jumlah laporan naik sebesar 95% dari tahun 2011 ke tahun 2012.
Citra perempuan yang ditampilkan di media masih mengandung unsur-unsur negatif dan diskriminatif. Di beberapa sinetron, kita sering melihat sang tokoh utama (yang diperankan oleh seorang perempuan) sering menjadi sosok yang lemah dan teraniaya. Belum lagi dengan beberapa komedi situasi yang masih menampilkan sosok seorang perempuan yang kerjaan utamanya hanya dandan tetapi bisa menjadi sekretaris sebuah perusahaan. Sosok perempuan di televisi masih sering dijadikan sebagai boneka untuk menarik minat lebih banyak penonton dengan menampilkan adegan mesum. Komisi Penyiaran Indonesia sudah harus lebih aktif dan antisipatif untuk menyaring tayangan-tayangan di televisi yang masih sangat bias gender. Kita memang bisa melakukan pengaduan di situs Komisi Penyiaran Indonesia. Sayangnya, keberlangsungan laporan pengaduan itu belum bisa diketahui secara langsung dan jelas oleh masyarakat.
Komisi Penyiaran Indonesia sudah saatnya menjalin kerjasama yang lebih baik dengan Komisi Hak Asasi Manusia dan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Jika kerjasama itu bisa dilakukan, maka tayangan-tayangan televisi yang ada bisa lebih baik dan tidak bias gender. Masyarakat pun bisa mendapatkan tayangan yang jauh lebih bermanfaat. Saat ini sebagian besar sinetron Indonesia menampilkan sosok perempuan sebagai sosok yang ditindas ataupun penindas. Jika perempuan itu ditampilkan menjadi sosok penindas, yang ditindasnya pun adalah seorang perempuan. Tayangan-tayangan seperti pada akhirnya semakin melekatkan anggapan di masyarakat bahwa kaum perempuan tak lebih dari sosok makhluk yang lemah dan tak berdaya. Tayangan kekerasan terhadap perempuan juga masih sering ditontonkan di televisi mulai dari aksi bully remaja putri di sekolah, aksi suami atau mertua yang melakukan kekerasan fisik pada perempuan, dan sebagainya.
Program-program televisi di Indonesia memiliki andil yang cukup besar dalam pembentukan citra perempuan. Komisi Penyiaran Indonesia tampaknya harus lebih banyak mengerahkan energinya pada program-program televisi yang bermasalah. Program-program televisi yang masih sering mengeksploitasi tubuh perempuan sudah saatnya ditindak tegas. Masyarakat Indonesi membutuhkan lebih banyak program-program televisi yang mengusung kualitas intelektul daripada sekadar mempertontonkan tubuh perempuan. Ditambah lagi kontrol masyarakat untuk memilih program yang bisa dan layak ditonton oleh keluarga khususnya anak-anak masih lemah.
Peran Komisi Penyiaran Indonesia dalam menjaga citra perempuan sangatlah penting. Pihak televisi perlu diberi peringatan yang lebih tegas dalam menayangkan program-programnya. Jika sebuah program televisi mengandung ketidaksetaraan relasi gender serta menampilkan tubuh perempuan sebagai penarik perhatian atau objek, makah hal itu bisa digolongkan dalam kategori pelanggaran Hak Asasi Manusia berbasis gender.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Penyiaran_Indonesia (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://larassutedja.blogspot.com/2011/02/eksploitasi-perempuan-dalam-media-massa.html (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3:perempuan-dalam-tayangan-televisi&catid=2:sorotan&Itemid=3 (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://missdk.blogdetik.com/2012/12/11/citra-perempuan-dalam-sinetron/#.UTm4LmV96nA (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://beritamanado.com/more/berita-singkat/program-teve-turut-andil-membentuk-citra-perempuan/95659/ (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)

Kaum Perempuan Indonesia sebagai Target Market Potensial Media Massa

Saat ini, peran perempuan semakin kompleks karena kaum perempuan dituntut untuk serba bisa. Tak heran tingkat kemandirian dan intelektualitas kaum perempuan pun semakin meningkat. Hal ini pun membuat para pelaku media massa mulai membidik kaum perempuan sebagai target potensial mereka. Banyak media massa yang secara khusus membidik perempuan sebagai pangsa pasarnya dengan menerbitkan majalah khusus wanita. Majalah khusus wanita pun masih dibagi-bagi lagi ada yang khusus untuk remaja perempuan, wanita karier, ibu rumah tangga, dan wanita muslimah. Melalui media juga lah, kita bisa mengenal istilah Super Mom. Artikel-artikel yang menuliskan tentang kesuksesan kaum perempuan di Indonesia pun masih digandrungi hingga saat ini. Di satu sisi kaum perempuan membutuhkan informasi yang lebih lengkap dan aktual di tengah kemajemukan dan kompleksitasnya. Di sisi lain, media massa juga harus mendongkrak keuntungan mereka. Sehingga, jumlah media massa yang mendongkrak keuntungannya dengan menjadikan kaum perempuan sebagai target pasar semakin meningkat.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kaum perempuan menjadi target market yang sangat menguntungkan untuk para pelaku media massa. Pertama, kaum perempuan adalah konsumen yang berpengaruh. Sekitar 97% pembelian dipengaruhi oleh kaum perempuan. Berbeda dengan kaum laki-laki yang sebagian besar keputusannya dipengaruhi oleh kaum perempuan, kaum perempuan memiliki hak penuh untuk memutuskan apa-apa saja yang harus dibeli seperti keperluan rumah tangga dan kantor. Para pelaku media massa pun mengambil celah dengan menampilkan tren mode, kosmetik, dan sebagainya di majalah atau koran. Kedua, kaum perempuan bisa dikatakan lebih konsumtif daripada kaum laki-laki. Meskipun konsumtif, kaum perempuan masa kini lebih teliti dan cermat dalam membelanjakan uangnya. Di seluruh dunia, jumlah wanita yang bekerja sudah hampir 1 miliar. Dengan jumlah wanita pekerja atau wanita karier yang semakin meningkat, kaum perempuan telah memiliki kekuatan yang cukup besar di ranah bisnis. Hal ini tentu saja tak disia-siakan oleh para pelaku media massa. Untuk meningkatkan oplah penjualan majalah wanita, dihadirkan lebih banyak rubrik yang lebih inspiratif.
Sejak awal tahun 2000-an, penerbitan majalah di Indonesia mulai semakin fokus dengan target pasar yang lebih spesifik. Kecanggihan teknologi pun semakin mempercepat proses penerbitan. Pada tahun 1997, jumlah penerbitan di Indonesia sebesar 282. Di tahun 1999, jumlah penerbitan melonjak hingga 1.675. Bahkan di tahun 2001, jumlah penerbitan mencapai 2.033. Melihat angka penerbitan yang semakin meningkat setiap tahunnya, para pelaku media massa mulai membuat strategi khusus. Salah satunya adalah dengan membuat majalah khusus wanita. Di Pulau Jawa sendiri, jumlah media massa di kategori majalah sudah mencapai 86,3% dari total 219 jumlah penerbitan majalah di Indonesia. Dengan adanya segmentasi pasar, pelaku media massa bisa lebih mudah dalam mencari peluang, memberikan konten yang lebih berkualitas, merumuskan pesan-pesan komunikasi dengan lebih mudah dan efektif, dan menganalisis perilaku konsumen dengan lebih tepat.
Pada tahun 2006 saja, persentase wanita yang berkarir sudah mencapai 31,2% dan itupun sudah meliputi semua sektor bidang usaha. Angka tersebut terus meningkat setiap tahun. Selain itu, jumlah perempuan yang memperoleh pendidikan tinggi sebanyak 91,5%, hanya selisih 5,1% dengan pria yang memiliki presentase 96,6%. Tak heran bahwa kaum perempuan sudah semakin mandiri dan memliki peran yang besar tidak hanya di keluarga tetapi juga di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, para pelaku media massa pun saling berlomba untuk meningkatkan kualitas media massa untuk bisa memenuhi kebutuhan kaum perempuan. Saat ini strategi yang digunakan para pelaku media massa tidak hanya menjual produk atau konten kepada pelanggan. Para pelaku media massa lebih cermat lagi dalam menciptakan hubungan jangka panjang. Hubungan jangka panjang ini diciptakan dengan hubungan yang tidak terbatas pada sifat transaksional saja.
Jumlah pelaku media massa yang menggunakan kecanggihan teknologi pun meningkat. Hal ini mengingat bahwa pada tahun 2012 saja, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 63 juta orang. Kaum perempuan pun sudah melek terhadap kecanggihan internet karen 24,23% dari jumlah penduduk Indonesia adalah pengguna internet aktif. Tak heran para pelaku media massa kini semakin gencar mendekati kaum perempuan sebagai target pasar melalui internet dan sosial media.

Sumber:
http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/08/perempuan-dan-media-cetak-pilihannya-453438.html (diakses pada tanggal 6 Maret 2013)
http://www.pillaraccelerator.com/meraih-target-pasar-potensial/ (diakses pada tanggal 6 Maret 2013)
http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/27/memotret-industri-majalah-bersegmen-di-indonesia/ (diakses pada tanggal 6 Maret 2013)
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/12/segmentasi-pasar-untuk-menacapai-target-pasar/ (diakses pada tanggal 6 Maret 2013)
http://psychology.uii.ac.id/images/stories/…/naskah-publikasi-02320055.pdf (diakses pada tanggal 6 Maret 2013)

Budaya Patriarki di Indonesia dan Kontribusinya pada Bias Gender

Di Indonesia, kita sering mendengar tentang budaya patriarki. Apa sesungguhnya budaya patriarki itu? Dan bagaimana sejarah budaya patriarki yang ada di Indonesia? Jika kita menilik pada istilah patriarki, kita akan tahu bahwa patriarki pada dasarnya merupakan sebuah sistem sosial yang menempatkan kaum laki-laki sebagai sosok otoritas utama serta sering ditempatkan sebagai pemilik sentral organisasi sosial. Salah satu contohnya adalah posisi ayah dalam keluarga. Di dalam keluarga, khususnya di Indonesia, ayah masih sering dianggap sebagai satu-satunya pemilik otoritas terhadap anak-anak, harta benda, dan keluarganya. Secara tersirat, kita melihat bahwa sistem yang ada di dalam budaya patriarki ini memposisikan kaum perempuan sebagai subordinasi sedangkan laki-laki memiliki hak yang lebih istimewa. Mari kita bahas lebih jauh tentang sejarah budaya patriarki yang ada di Indonesia.
Budaya patriarki yang ada di Indonesia juga dipengaruhi dengan adanya sistem patrilineal. Patrilineal merupakan adat masyarakat yang mengatur alur atau garis keturunan dari pihak laki-laki atau ayah. Ada kemiripan istilah antara patriarki dan patrilineal. Kedua kata tersebut sama-sama mengandung satu kata yang sama, yaitu “pater” yang berarti ayah. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas banyak suku dan budaya. Selain budaya patrilineal, juga ada budaya matrilineal. Kebalikan dari patrilineal, matrilineal ini merupakan adat masyarakat yang menyatakan garis atau alur keturunan berasal dari pihak perempuan atau ibu. Budaya matrilineal ini tergolong jarang digunakan terutama di Indonesia.
Disadari atau tidak, saat ini kita masih merasakan adanya bias gender. Salah satu penyebab utama terjadinya bias gender ini adalah karena masih kentalnya budaya patriarki yang ada di Indonesia. Kesempatan perempuan untuk bisa berkiprah dan berperan aktif di segala bidang masih sering dibatasi. Bahkan ada peraturan dan hukum yang disinyalir bias gender karena masih ada unsur diskriminasi pada kaum perempuan. Skala upah untuk perempuan kadang-kadang masih berada di bawah skala upah laki-laki.
Kentalnya pola patriarki di Indonesia menyebabkan sulitnya meningkatkan keseteraan gender terhadap perempuan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa seorang perempuan pada akhirnya hanya bisa menjadi perempouan rumahan saja. Sehingga, masih banyak keluarga yang tak mengijinkan anak perempuannya untuk mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika kaum perempuan tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak, maka kaum perempuan akan terus didiskriminasi. Diskriminasi seperti ini pada akhirnya menciptakan ketimpangan sosial dan keadilan antara perempuan dan laki-laki. Salah satu penyebab awal terbentuknya budaya patriarki adalah adanya perbedan biologis antara laki-laki dan perempuan. Sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki pola pikir bahwa kaum perempuan tidak memiliki otot sekuat kaum laki-laki. Padahal, yang harus kita pahami lebih dalam adalah bahwa kekuatan fisik tidak bisa dijadikan alasan masyarakat untuk memperlakukan kaum perempuan lebih rendah dari kaum laki-laki.
Masih banyaknya penduduk atau masyarakat Indonesia yang menganut “kepercayaan” bahwa kaum perempuan itu lebih lemah dari kaum laki-laki menjadi penyebab ideologi patriarki yang masih melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Jika perempuan ingin bekerja, maka ruang yang disediakan lebih banyak ke ranah domestik. Selain itu, di Indonesia sendiri masih ada anggapan bahwa secara ekonomi kaum perempuan masih tergantung pada kaum laki-laki. Dengan kata lain, perempuan tidak perlu mengembangkan karir atau pekerjaannya karena nantinya sang suami juga lah yang akan menghidupinya. Akibatnya, kaum perempuan “dipaksa” untuk menggantungkan seluruh hidupnya pada kaum laki-laki atau sang suami.
Di Indonesia, sistem perjodohan masih berlaku di beberapa daerah. Sang perempuan pasrah menerima sebuah perjodohan sedangkan laki-laki bisa bebas menentukan calon istrinya. Masih banyaknya keluarga yang menganut sistem patriarki membuat tidak semua anak perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Jika di dalam keluarga saja, perempuan tak bisa mendapatkan haknya untuk memperolah pendidikan yang layak, maka sistem patriarki masih akan terus melekat kuat di masyarakat Indonesia. Ada satu hal lagi yang menyebabkan budaya patriarki masih berakar kuat di Indonesia, yaitu kaum perempuan masih sering ditempatkan pada posisi marginal. Ada sebuah kewajiban atau keharusan tak tertulis yang menyatakan bahwa perempuan hanya boleh tinggal di rumah dan melakukan semua pekerjaan rumah.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://rosenmanmanihuruk.blogspot.com/2008/06/budaya-patriarki-di-indonesia-membuat.html (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Patrilineal (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://mimbarhukum.blogspot.com/2013/02/budaya-patriarki-dalam-kesetaraan-gender.html (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)
http://eprints.undip.ac.id/…/BELENGGU_BELENGGU_PATRIARKI_SEB (diakses pada tanggal 8 Maret 2013)

Peran Sistem Sosial Indonesia dan Kesetaraan serta Kesejahteraan Kaum Perempuan

Tak bisa kita pungkiri bahwa kesetaraan dan kesejahteraan kaum perempuan di Indonesia belum bisa terpenuhi dengan baik. Salah satu hal yang menghambat tercapaianya kesejahteraan dan kesetaraan perempuan di Indonesia dalah karena sistem sosial yang ada. Di dalam dunia kerja, perempuan Indonesia masih sering dihadapkan pada adanya segmentasi jenis kelamin, promosi karyawan, dan hingga angkatan kerja. Saat ini pun masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang tidak bisa mendapat kesejahteraan yang layak karena pekerjaan-pekerjaan yang mereka miliki masih berstatus lebih rendah daripada laki-laki. Kenyataan ini memang sangat miris terlebih karena rupanya perjuangan R.A. Kartini belum bisa sepenuhnya mencapai tujuan. Ada beberapa hal yang menghambat dan memperlambat kesetaraan dan kesejahteraan kaum perempuan.

women working 1

Hal pertama adalah karena sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa pekerjaan seorang perempuan hanyalah sekadar tambahan peran. Lekatnya budaya patriarki yang dianut, membuat sebagian besar perempuan kehilangan haknya untuk menentukan pilihan hidup. Kita tahu bahwa di dalam budaya patriarki, sosok perempuan masih diidentikkan dengan citra konco wingking yang hanya bisa pasrah menerima semua keputusan dari sang pria atau suami. Di dalam budaya patriarki ini pun, tersirat sebuah tatanan bahwa kaum lelaki memiliki posisi yang lebih tinggi dari posisi perempuan secara sosial. Kadangkala suami tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja karena khawatir gaji sang istri lebih tinggi daripada gaji sang suami. Sebagian besar perempuan Indonesia bahkan hanya bisa bekerja di ranah domestik saja dengan gaji yang tidak sepadan. Pada akhirnya, banyak perempuan Indonesia yang tidak dapat memenuhi kesejahteraan hidupnya. Kita tak bisa mengingkari kenyataan bahwa masih ada perempuan Indonesia yang tidak dihargai dan sering dianggap sebelah mata ketika ia berkiprah di dunia kerja.
Hal kedua adalah kaum perempuan di Indonesia tidak bisa mendapatkan kesempatan yang setara di pasar tenaga kerja. Meskipun sudah beberapa tahun belakangan ini akses anak-anak perempuan Indonesia untuk mendapatkan pendidikan semakin diperluas, kita masih sering melihat adanya ketimpangan kesetaraaan di dunia kerja. Ranah perekonomian informal masih menjadi fokus atau konsentrasi para pekerja perempuan. Masih banyak perempuan Indonesia yang hanya bisa menjadi pekerja rumahan aau menjadi buruh di usaha mikro dan kecil. Masih timpangnya ruang kesempatan yang diberikan di pasar tenaga kerja membuat masih banyaknya perempuan Indonesia yang bekerja dengan upah yang sangat minim atau malah tidak diupah sama sekali. Jika upah saja tidak mencukupi, bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka? Perempuan juga masih sering terperangkap pada adanya pemisahan pekerjaan. Posisi perempuan Indonesia pun akan semakin terjepit tatkala mereka masih terjebak dalam belenggu kemiskinan.

women sewing clothes

Hal ketiga adalah masih adanya pola pernikahan yang sangat merugikan pihak wanita. Jika kita mencoba menilik lebih jauh, kita akan melihat bahwa masih ada anggapan di sebuah pernikahan bahwa nantinya hanya sang istri lah yang memiliki kewajiban untuk mengatur semua urusan rumah tangga. Meskipun memang hal ini tidak selalu berkonotasi negatif, namun bagi sebagian orang yang tidak bertanggung jawab, hal tersebut malah membuat mereka seolah memiliki hak untuk mengatur-atur sang istri. Tak heran jika jumlah kekerasan terhadap perempuan pun belum bisa ditekan secara signifikan. Belum lagi dengan jumlah perempuan Indonesia yang melakukan pernikahan dini (atau malah yang terlalu dini) yang belum bisa dikontrol dengan baik. Di dalam pernikahan dini, rentan terjadi kekerasan bahkan pelecehan seksual. Hal ini tentunya menjadi ancaman serius bagi kaum perempuan di Indonesia.

wife and husband

Di balik beberapa hal yang menghambat dan memperlambat kesetaraan dan kesejahteraan kaum perempuan, ada satu hal lagi yang perlu kita luruskan. Kesetaran gender bukanlah adanya tuntutan hak serta kewajiban yang sama persis antara laki-laki dan perempuan tanpa ada pertimbangan-pertimbangan lebih jauh. Kita tak bisa membebankan semua permasalahan hanya pada perempuan atau laki-laki saja. Salah satu cara agar perempuan Indonesia tidak terus terbelunggu pada sistem sosial adalah dengan mendapatkan pendidikan dan keterampilan yang baik. Jika memang tidak bisa mendapatkan pendidikan formal, kita masih bisa mengikuti pelatihan kewirausahaan dan keterampilan yang diadakan oleh lembaga-lembaga non formal.

Sumber:
http://www.rayakultura.net/perempuan-menceritakan-perjalanannya-2/ (diakses pada tanggal 16 Februari 2013)
http://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_201772/lang–en/index.htm (diakses pada tanggal 16 Februari 2013)
http://www.kalyanamitra.or.id/2012/09/kesetaraan-gender-kondisi-perempuan-yang-perlu-diwujudkan/ (diakses pada tanggal 16 Februari 2013)
http://www.gajimu.com/main/tips-karir/Tentang-wanita/perempuan-dan-teriakannya-seputar-kesetaraan-gender (diakses pada tanggal 16 Februari 2013)
http://www.sahabatwanita.org/news_activity/detil/berita___kegiatan/ruang_pers/sahabat_wanita_gelar_pelatihan_kerwirausahaan_bagi_wanita_di_malang (diakses pada tanggal 16 Februari 2013)